Kapal Pengangkut Sampah Pulau Derawan Alami Kerusakan, Camat Dorong Kolaborasi Selamatkan Citra Destinasi Wisata Unggulan Berau

img

Camat Pulau Derawan, Ariyanto.  (foto :sep/fn)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Keindahan Pulau Derawan yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Berau dan Kalimantan Timur ternyata masih dibayangi persoalan klasik, yakni pengelolaan sampah. Di tengah tingginya kunjungan wisatawan, proses pengangkutan sampah dari pulau tersebut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Tanjung Batu kini mengalami kendala akibat kerusakan mesin kapal pengangkut.

 

Kondisi itu menjadi perhatian serius Pemerintah Kecamatan Pulau Derawan. Pasalnya, apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani, tumpukan sampah dikhawatirkan dapat mengganggu kebersihan lingkungan, menurunkan kenyamanan wisatawan, hingga berdampak pada citra Pulau Derawan sebagai salah satu ikon pariwisata Kabupaten Berau.

 

Camat Pulau Derawan, Ariyanto, mengatakan persoalan pengelolaan sampah menjadi salah satu isu utama yang disampaikannya kepada Wakil Gubernur Kalimantan Timur saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Derawan beberapa waktu lalu.

 

Menurutnya, sistem pengelolaan sampah di Pulau Derawan selama ini bergantung pada armada laut yang mengangkut sampah menuju Tanjung Batu. Namun, armada tersebut saat ini tidak dapat beroperasi secara maksimal karena mengalami kerusakan pada bagian mesin.

 

"Kalau Pulau Derawan, kemarin kami menyampaikan persoalan sampahnya. Karena sampah dari Pulau Derawan diangkut ke Tanjung Batu," ujar Ariyanto.

 

Ia menjelaskan, informasi mengenai kerusakan kapal tersebut berdasarkan laporan resmi dari Pemerintah Kampung Pulau Derawan. Kerusakan mesin membuat aktivitas pengangkutan sampah tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga membutuhkan penanganan segera.

 

"Saat ini yang pertama ada masalah efisiensi, kemudian seperti alat pengangkut kapal dan mesinnya. Kemarin ada surat dari Kepala Kampung bahwa untuk perahu atau kapal yang menuju Tanjung Batu itu ada trouble pada mesinnya," jelasnya.

 

Tak hanya persoalan armada, Ariyanto mengungkapkan kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah juga menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga keberlangsungan operasional pengangkutan sampah. Keterbatasan anggaran membuat ruang gerak pemerintah menjadi lebih terbatas, sementara kebutuhan penanganan sampah terus meningkat seiring aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata.

 

Menurutnya, persoalan sampah di kawasan wisata tidak bisa dipandang sebagai urusan pemerintah semata. Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari dunia usaha, pelaku pariwisata, organisasi masyarakat, hingga komunitas peduli lingkungan agar penanganan sampah dapat dilakukan secara berkelanjutan.

 

"Ditambah lagi dengan efisiensi anggaran, sehingga kondisi ini sangat memungkinkan untuk kita membangun kerja sama dengan pihak-pihak terkait dalam penanganannya," katanya.

 

Ariyanto menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis untuk memastikan kebersihan Pulau Derawan tetap terjaga. Sebab, kebersihan lingkungan merupakan salah satu faktor penting yang menentukan kenyamanan wisatawan sekaligus menjaga daya saing destinasi di tengah persaingan sektor pariwisata.

 

Ia berharap persoalan kerusakan kapal pengangkut sampah dapat segera ditangani sehingga proses pengangkutan kembali normal. Dengan demikian, pengelolaan sampah di Pulau Derawan dapat berjalan optimal dan tidak menjadi ancaman bagi kelestarian lingkungan maupun citra pariwisata Berau.

Bagi Ariyanto, menjaga Pulau Derawan tetap bersih bukan sekadar memenuhi kebutuhan dasar pelayanan publik, tetapi juga merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pariwisata daerah. Sebab, keindahan pantai, kejernihan laut, dan ekosistem yang menjadi daya tarik utama Pulau Derawan hanya dapat dipertahankan apabila didukung dengan pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan. (sep/FN)